Senin, 02 Mei 2016

Mengingat 71 Tahun Pendudukan Berlin oleh Soviet

Artikel Asli :Dr Luke Gibbon
Penerjemah dan Editor : Muhamad Ikhsan 
A. Pertempuran Berlin 1945
Hari ini adalah hari bersejarah dimana pasukan sekutu berhasil menduduki wilayah Jerman, tepatnya di Reichstag (gedung parlemen Jerman) di Berlin 71 tahun lalu. Kemenangan ini mengukuhkan kemenangan pasukan Soviet khususnya dalam Perang Dunia II melawan Nazi. Hari ini pula Jenderal Helmuth Wedling yang merupakan komandan Nazi terakhir yang masih hidup memberi perintah membuka pertahanan kota untuk dikuasai tentara merah. 
Bagaimanapun juga, gambar bersejarah yang diambil fotografer Yevgeny Khaldei di majalah Ogonyk menggemparkan dunia. Menurut keterangan pemerintah Soviet, pengibaran bendera ini sebenarnya dilakukan tanggal 30 April setelah pemberian perintah mengalahkan pasukan Jerman. Namun tanggal peristiwa ini masih kabur, perintah untuk menguasai Reichstag diberikan tanggal 1 Mei sebagai penanda kemenangan mereka di Hari Buruh Internasional, sementara pertarungan sengit berlanjut di Berlin yang bertahan selama beberapa hari kemudian. Tidak bisa disangkal juga bahwa pada tanggal 1 Mei tentara merah telah berhasil menduduki jantung pertahanan negara tersebut.
Kemenangan ini mesti dibayar mahal oleh Soviet, setidaknya peristiwa ini mengorbankan jiwa 78.291 pasukan dan melukai hamper 270 ribu lainnya. Musuh mereka pun sungguh berat, yakni melawan  90.000 tentara Jerman. Untungnya kondisi pasukan Jerman saat itu berantakkan dan keahlian tentara amatir yang rendah memudahkan Soviet menduduki wilayah tersebut. Propaganda Jerman yang mengabarkan tentara merah datang dengan dendam kesumat pun membuat pasukan Jerman mempertahankan Berlin habis-habisan. Jika bisa memilih, mereka (rakyat Jerman) lebih memilih dikuasai pasukan sekutu ketimbang pasukan Soviet. 
Besarnya korban juga membuat ambisi Soviet menguasai Jerman menguat. Stalin memerintahkan penundaan kedatangan tentara merah ke Berlin karena ia ingin tentaranya benar-benar siap melawan tentara Jerman dengan kondisi terburuk. Tanggal 1 April 1945 telah diputuskan bahwa pasukan Soviet harus menguasai Berlin lebih dulu ketimbang Amerika ataupun Inggris. Walaupun Stalin sebelumnya hanya memberi kuasa kepada Marsekal Zhukov, ia kemudian membagi komando di antara Marsekal Zhukov, Konev, dan  Rokossovsky. Dalam tenggat waktu dua minggu yang diberikan, Stalin berlomba dengan waktu menguasai kota Berlin. Ia juga memberi sayembara kepada tiga jenderal tersebut bahwa siapapun yang pertama menduduki Berlin maka akan diganjar dengan gelar pahlawan nasional Soviet.
Perlombaan Menuju Reichstag
Stalin benar-benar berambisi merebut Berlin. Pada Konverensi Yalta Februari 1945 ia telah menandatangani “kesepakatan persahabatan” dengan pasukan sekutu yang menguntungkan pasukan Soviet dan mungkin membuatnya bisa benar-benar menguasai Berlin secara utuh.
Untuk semua komandan dan prajurit tentara merah, penaklukan Reichstag mungkin menjadi symbol pengorbanan mereka dan kemenangan manis melawan Nazi Jerman. Dalam surat para tentara Soviet kebanyakan memuat rasa keinginan mereka membuat Soviet Berjaya dan menduduki kota Berlin. Perang antara Soviet dan Jerman telah benar-benar menghancurkan kedua negara, bahkan empat kali lebih besar dari dampak pasukan sekutu. Pendudukan Nazi dan serangan balik Soviet mengorbankan 23 juta nyawa tentara dan sipil Soviet. Berlin akan menjadi milik Soviet karena usaha mereka yang besar.
Perlombaan Bom
Anthony Beevor berpendapat bahwa perlombaan menguasai Berlin merupakan bagian rencana Stalin untuk membuat bom atom. Intelijen Soviet telah memberitahu Stalin perkembangan proyek Anglo-American-Canadian Manhattan, sedangkan program Borodino milik Soviet masih tertinggal jauh. Sejauh ini Amerika hanya memberikan uranium kepada Soviet, dan dengan Inggris Soviet mendirikan perjanjian monopoli material nuklir. Stalin benar-benar berambisi merebut peneliti nuklir dan bahan nuklir di pusat penelitian Jerman, yakni Institut Kaiser Wilhelm di tenggara kota Berlin. Walaupun tentara merah berhasil menduduki fasilitas penelitian dan sejumlah tiga tom uranium yang memberi tambahan pijakan besar kemajuan penelitian nuklir Soviet, pasukan sekutu masih di depan mereka.
B. Saling Curiga Antara Soviet dengan Sekutu: 
Pandangan Soviet Mengenai Akhir Perang Eropa
Stalin melihat Jerman yang telah diduduki dan Eropa Timur memiliki kesempatan menebus korban jiwa dan harta selama perang, yakni dengan persiapan fisik dan finansial, tenaga kerja dan pasar yang dibutuhkan untuk memulihkan kondisi ekonomi dan social Soviet. Namun Stalin tidak percaya kepada ambisi politik, social dan batas wilayah Amerika dan Inggris. Menurut pandangannya, pasukan sekutu akan menduduki sebanyak mungkin wilayah Soviet yang disepakati pascaperang. Pasukan Inggris dan Amerika telah menyebrangi sungai Rhine, mengambil keuntungan atas kegagalan Jerman menghancurkan jaur kereta di sepanjang wilayah Remagen, dan Stalin khawatir bahwa mereka akan mencapai Berlin sebelum Soviet. Ia juga salah paham mengenai gencatan senjata antara pasukan Jerman dengan sekutu. Kesalahpahaman Stalin juga semakin besar setelah kematian Presiden Roosevelt tanggal 12 April 1945. Pengganti Roosevelt, Harry Truman, telah mangatakan tahun 1941 bahwa Nazi dan Soviet harus dibiarkan membunuh satu sama lain. Stalin lalu memutuskan secepatnya menduduki Berlin. Sebenarnya Presiden Truman tetap melanjutkan strategi strategi Roosevelt pendahulunya. Kontribusi pihak sekutu dalam penyerangan terakhir Berlin dibatasi hanya dengan mengebom kota dan memutus persediaan Jerman sampai kedatangan pasukan Soviet tanggal 20-21 April 1945. 

Pandangan Amerika Mengenai Akhir Perang Eropa
Bulan April 1945, tujuan utama Presidents Roosevelt and Truman, Komandan Tertinggi Sekutu, Jenderal Eisenhower adalah mengamankan langkah Soviet mengalahkan Jepang, bukannya merebut Berlin sebelum Soviet. Dalam Konferensi Malta antara para pemimpin pasukan Sekutu di awal 1945, telah diperkirakan butuh setidaknya 18 bulan mengalahkan Jepang. Maka  Roosevelt dan Eisenhower meminta komitmen Stalin dalam perang di Asia sebelum invasi ke dataran Jepang. Hal ini menjadi semakin penting mengingat jatuhnya rezim nasionalis Chiang Khai-Shek di Cina. Lalu Eisenhower menekan Inggris menguasai Berlin sebelum Rusia, ia melihat tidak perlu berselisih dan menambah korban jiwa melawan Stalin. Ia menyatakan bahwa telah disetujui bahwa Berlin akan dalam pengaruh Soviet. Namun Eisenhower meremehkan usaha Stalin untuk merebut Berlin dan menguasai fasilitas nuklir Jerman. Komandan perang Amerika pun akhirnya membuat rencana sendiri untuk menyebrangi sungai Rhine. Dengan persetujuan Washington, namun dengan penolakan London, dia memerintahkan tentara Amerika maju dan bahu membahu bersama melawan Nazi di pegunungan Alpen. Dengan keyakinan tentara Inggris yang akan masuk sebelum Rusia, Eisenhower memerintahkan tentaranya maju menuju perbatasan Denmark dan melesat menuju pantai timur Jerman. 
Pandangan Inggris Mengenai Akhir Perang Eropa
Perdana Menteri Winston Churchill dan Panglima Marsekal Montgomery berulangkali gagal membujuk pasukan sekutu dan Amerika bahwa mereka harus merebut Berlin sebelum Rusia. Churchill khawatir dengan peran Soviet pascaperang di wilayah Eropa Barat dan Timur, ia juga ingin pasukan inggris mempercepat gerakan menuju Berlin sesegera mungkin. Hal ini akan memberikan mereka posisi yang kuat dalam pembagian kekuasaan pascaperang. Namun, dalam konverensi Malta pihak Inggris harus menolak rencana penguasaan tunggal Berlin oleh pihak sekutu pimpinan Montgomery, mengingat andil Amerika dalam segi strategi,tentara, dan senjata yang sangat besar. Inggris saat itu menjadi negara terlemah dalam “Big Three” pasukan sekutu, serta kondisi ekonomi yang mencekik memaksa Inggris segera mengakhiri perang. Memastikan keterlibatan Soviet dalam perang di Eropa Timur juga merupakan tujuan Inggris sebab usaha penyerangan Soviet melawan Jepang di Manchuria pasti akan mempermudah usaha Inggris menguasai Malaya. Namun keputusan Inggris yang terkesan pengecut tersebut bukan bertujuan menguasai Berlin, sebab mereka tidak memiliki pengaruh dan sumberdaya yang cukup untuk memperjuangkannya. 
Meskipun mereka memikirkan kemenangan Soviet di Berlin atau pun ambisi pascaperang Soviet, Inggris tidak memiliki kekuatan untuk menantang Rusia dalam perlombaan menguasai Reichstag. Jika kebijakan Amerika telah ada lebih dulu, tentara sekutu mungkin tidak memberi kesempatan Soviet menguasai Jerman, namun pertempuran akhir ini memang milik Soviet. Kemenangan Soviet di Berlin merupakan aksi simbolik dan untuk melatih serangan dengan matang. Stalin benar-benar menginginkan tentara merah harus menjadi pihak yang menaklukkan keganasan Nazi Jerman dan memasang bendera kemenangan di reruntuhan Reichstag. Berkat kekuatan tentara Soviet dan rasa balas dendam akibat perang sebelumnya membuat kisah perang ini semakin buruk. Namun akhir bulan April dan awal Mei 1945, rakyat menginginkan perang ini segera usai dan negara-negara eropa harus membuka lembaran baru kehidupan yang damai tanpa perang.

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon