Minggu, 01 Mei 2016

Mengenal Fasisme

Loading...

Apa itu Fasisme?

Fasisme /ˈfæʃɪzəm/ adalah bentuk dari sebuah nasionalisme otoriter yang merebak di awal abad ke-20 di eropa. Ideologi ini awalnya terbit di Italia selama Perang Dunia I dan menyebar ke berbagai negara eropa. Fasisme sangat memusuhi ideologi liberalisme serta marxisme dan biasanya dikategorikan sebagai sayap kanan ekstrem dalam pengkategorian politik.
Fasisme memandang Perang Dunia I sebagai sebuah revolusi yang memberi andil besar terhadap perubahan besar bidang militer, masyarakat, kenegaraan serta teknologi. Strategi perang habis-habisan telah mengakibatkan kaburnya status antara warga sipil dan militer. Sebuah pemerintahan militer dibentuk dalam pemerintahan fasisme karena terpengaruh situasi dan kondisi perang yang mencekik. Perang memaksa tumbuhnya fasisme yang bisa menggerakkan jutaan rakyat untuk mendukung di garda depan peperangan serta menyediakan sarana dan prasarana peperangan, serta memiliki wewenang tidak terbatas dalam mengatur kehidupan rakyat.
Kaum fasis meyakini bahwa demokrasi telah usang, dan mereka mengandalkan kendali penuh kepada rakyat yang bernaung dalam satu partai negara untuk mengatasi beragam masalah ekonomi, politik, dan perang. Pemerintahan fasisme biasanya dipegang oleh seorang pemimpin diktator untuk membentuk kesatuan dan menjaga stabilitas negara. Fasisme menolak pandangan bahwa kekerasan merupakan perbuatan buruk yang mesti dihindari bahkan menganggap hal tersebut perlu untuk membentuk negara yang padu. Fasisme mengambil prinsip ekonomi campuran dengan melaksanakan kebijakan autarki melalui perlindungan serta campur tangan pemerintah.

Fasisme Secara Etimologi


Fasisme berasal dari bahasa Italia, fascismo yang mengakar kepada kata fascio yang artinya ikatan tongkat. Nama ini diberikan oleh sebuah kelompok politik yakni fasci yang pertama kali tampil dengan ideologi kiri. Tahun 1921 dibentuklah Partai Nasional Fasis oleh Benito Mussolini di kota Milan. Ideologi ini mengibaratkan diri mereka dengan semacam perkakas kuno dari zaman Romawi yakni fascio littorio — sebuah mata kapak yang diikatkan kepada kumpulan kayu yang merupakan simbol pemerintahan kuno Romawi. Lambang politik fasisme memiliki filosofi bahwa terdapat kekuatan melalui persatuan.
Satu konsep umum yang mengartikan fasisme mengacu kepada tiga konsep : kebencian kepada liberalisme, komunisme, konservativisme; pemerintahan otoriter yang bertujuan membuat sistem ekonomi pemerintahan yang memakmurkan rakyat, kedaulatan pemerintah, serta bertumpu kepada pemimpin karismatik.

Kedudukan Fasisme dalam Sudut Politik



Fasisme terdiri dari campuran prinsip politik kiri dan kanan, konservatif dan antikonservatif, nasionalisme dan ultranasionalisme, rasionalisme dan antirasionalisme. Oleh karena itu beberapa sejarawan menempatkan fasisme sebagai ideologi tengah.
Beberapa lainnya mengkategorikan fasisme sebagai politik sayap kanan karena prinsip konservativisme mereka dan pemimpin otoriter yang melawan egaliterisme (kesetaraan). Ideologi ini mengarah ke sayap kanan sebab tahun 1920-an karena tujuan fasisme adalah dominasi para pemimpin, sementara kekuasaan rakyat adalah komponen kecil.
Benito Mussolini mendefinisikan fasisme sebagai pergerakan yang akan menyerang ideologi liberalisme dan marxisme. Setelahnya para fasis di Italia mendeskripsikan fasisme sebagai ideologi sayap kanan. Mussolini menyatakan bukan masalah besar apakah fasisme termasuk dalam ideologi kiri atau kanan. “Fasisme, berada di kanan, dapat juga duduk dalam posisi manapun”.
Setelah Raja Victor Immanuel III memaksa Mussolini turun dari jabatannya sebagai pemimpin negara dan memenjarakannya tahun 1943, setelahnya ia diselamatkan oleh pasukan Jerman. Ketika dirinya bergantung kepada bantuan Jerman, Mussolini dan sisa pendukungnya mendirikan Republik Sosialis Italia dengan dirinya sebagai pemimpin. Menurutnya fasisme menjadi “melempem” karena campur tangan para konservatif dan kaum borjuis. Lalu pemerintahan fasis baru ini mengajukan kendali terhadap para buruh, modal meskipun para petinggi Jerman mengabaikannya.
Sejumlah pergerakan fasisme pasca-Perang Dunia II mengidentifikasi diri mereka sebagai “posisi ketiga” di luar pandangan politik dan tradisional.
A number of post-World War II fascist movements described themselves as a "third position" outside the traditional political spectrum.[55] Spanish Falangist leader José Antonio Primo de Rivera said: "basically the Right stands for the maintenance of an economic structure, albeit an unjust one, while the Left stands for the attempt to subvert that economic structure, even though the subversion thereof would entail the destruction of much that was worthwhile".[56]
Prinsip Fasisme

Nasionalisme merupakan landasan ideologi fasisme. Pandangan kaum fasis terhadap Negara merupakan satu kesatuan yang menyatukan rakyat berasakan rasa kebangsaan yang secara alami tumbuh dalam diri rakyat. Fasisme berupaya menyelesaikan masalah ekonomi, politik, serta social dengan kekuatan rakyat, mengagungkan kedudukan suatu bangsa atau ras diatas yang lain, dan menyebarkan rasa persatuan budaya, kekuatan, serta kemurnian bangsa. Fasisme di eropa terbentuk karena stereotip tentang superioritas orang eropa asli dibandingkan noneropa. Sebenarnya, fasisme tidak mengangkat tentang keutamaan ras tertentu. Jika kita lihat kebelakang, fasisme memperjuangkan imperialism, walaupun tidak semua mengejar hal tersebut.

Totaliterianisme

Kaum fasis mengangkat isu pendirian Negara totaliter. Ia melawan ideologi liberal, demokrasi, system multipartai, dan menyokong system partai tunggal Negara. Buku The Doctrine of Fascism menyatakan bahwa konsep totaliterisme bagi fasisme adalah hal utama, di luar konsep agama dan kemanusiaan masih bisa berkembang. Kita dapat mengerti bahwa fasisme adalah totaliterisme, dan Negara fasis yang merupakan gabungan system nilai utama, membangun potensi dan kemandirian semua orang. Dalam  The Legal Basis of the Total State, ahli politik Nazi Carl Schmitt menyatakan niatan Nazi membentuk “Negara adidaya yang menjamin politik totaliter dan kesatuan politik di antara kemajemukan masyarakat” dalam hal mencegah “bencana antar unsur kesukuan dalam negeri Jerman.”
Kaum fasis juga menyatakan bahwa proses doktrinasi masyarakat melalui propaganda dalam system pendidikan. Pendidikan didesain untuk menggambarkan keagungan fasisme dan memberi siswa pengetahuan sejarah serta sistem politik fasisme. Negara juga mengajarkan siswa untuk menanamkan jiwa fasis serta menaati peraturan negara.

Ekonomi Fasisme


Fasisme menggambarkan dirinya sebagai alternative utama dari dua ideology ekonomi besar yakni kapitalisme dan sosialisme. Kaum fasis Italia menyebut system mereka kelompok sosialisme Sorealianisme namun diluar itu mereka membenci marxisme maupun sosialisme.
Pemerintahan fasis menerbitkan solusi pertentangan kelas dalam negara sebagai upaya mempertahankan persatuan. Hal ini bisa dilakukan dengan pendamaian yang dilakukan negara kepada kedua kelas tersebut. Meskipun negara telah mengupayakan pendamaian antarkelas social, namun masih tersisa konflik antarkelas dalam negara antara kaum buruh dengan para pemodal.
Fasisme mengutuk pandangan umum bahwa mereka memiliki mental kaum borjuis seperti materialistis, kesombongan, rasa pengecut, serta hubungannya dengan liberalism, individualism, dan parlementerisme. Mussolini mendefinisikan pandangannya tentang proletarian sebagai kelompok yang sama dengan produsen, pandangan yang mengkategorikan semua orang dalam system produksi termasuk pengusaha, teknisi, pekerja, dan tentara.
Meskipun fasisme mencela sosialisme marxisme, mereka mengklaim diri mereka sebagai para penggerak sosialisme yang mengutuk kapitalisme, bahkan mereka menggandeng para kapitalis di dalamnya. Hal ini mengacu kepada ide Henri de Saint Simon, yang menginspirasi penciptaan sosialisme utopis dan mempengaruhi ideologi lainnya, yang menekankan solidaritas ketimbang pertentangan kelas  yang merupakan salah satu konsep ekonomi untuk memenuhi pengaruh bangsawan dan para spekulan.
Pandangan Saint Simon dipadukan dengan kritisme sayap kanan era Revolusi Perancis serta percampuran dengan dasar ideologi kiri dalam rangka mengupayakan perkumpulan dan kolaborasi masyarakat. Walaupun Marxisme mengutuk kapitalisme sebagai system yang mengeksploitasi hubungan ekonomi, fasisme memegang kendali atas uang dan barang yang dalam prinsip kapitalisme kontemporer dianggap sebagai penyimpangan. Tidak seperti Marxisme, fasisme tidak melihat konflik antarkelas antara kaum buruh dan pemodal sebagai warisan dan penggerak sejarah materialisme.
Sebaliknya, fasisme menganggap pekerja dan kaum kapitalis sebagai komponen masyarakat produktif yang berseteru dengan elemen pengganggu yang terdiri atas partai politik korup, kapitalisme korup, serta rakyat lemah. Pemimpin fasis seperti Mussolini dan Hitler mengutarakan kebutuhan untuk membentuk pemimpin-pemimpin ekonomi yang dipimpin para insinyur dan kaum terdidik namun terbebas dari kepemimpinan yang kotor. Hitler menambahkan bahwa partai Nazi mendukung bodenständigen Kapitalismus (kapitalisme produktif) yang berdasarkan keuntungan dari tenaga kerja mereka, namun mengutuk kapitalisme yang mandek yang menghasilkan keuntungan dari spekulasi.
Ekonomi fasisme mendukung system kekuasaan ekonomi negara yang terdiri atas gabungan usaha milik masyarakat dan pribadi selama mengikuti tujuan utama produksi. Perencanaan ekonomi juga dicanangkan bagi sector public dan swasta, dan kemakmuran perusahaan swasta bergantung kepada kemampuan menyesuaikan tujuan mendapatkan keuntungan, namun menekankan bahwa industry harus memenuhi kepentingan negara dibandingkan mereka sendiri.
Sementara fasisme menerima pentingnya kemakmuran harta dan kekuasaan, namun fasisme mengutuk kapitalisme, fasisme dicitrakan berdiri di antara kapitalisme dan komunisme serta mengkritik materialisme dengan ketidakmampuannya mengetahui peranan jiwa masyarakat. Secara khusus, kaum fasis mengkritisi kapitalisme bukan karena system persaingan bebas maupun mendukung kepentingan ekonomi pribadi, namun karena sifat materialisme, individualisme,persekutuan antarkaum borjuis, dan pengabaian kepada negara. Fasisme mengkritik Marxisme karena pengkategorian masyarakat berdasarkan status material yang menurut kaum fasis merupakan serangan kepada ikatan emosi dan spiritual kepada negara dan ancaman perpecahan negara. Swasembada kegiatan ekonomi atau autarki merupakan tujuan utama dari pemerintahan fasis.

disadur dengan pengubahan dari laman

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon