Rabu, 18 Mei 2016

Mengenal Alexander Agung


Raja Alexander III dari Macedonia mungkin merupakan ahli strategi militer terbaik di dunia masa silam karena menaklukan wilayah yang membentang dari Yunani hingga mesir serta melewati apa yang sekarang disebut wilayah Turkey, Iran dan Pakistan. Kombinasi strategi militer dan politik yang baik, Alexander menghabiskan 13 tahun menyatukan wilayah Barat dan Timur melalui kekuatan militer dan kebudayaan. Reputasi Alexander meroket sehingga saat kematiannya di umur 32 tahun ia dipandang seperti Dewa. Hal inilah yang membuat para sejarawan sulit memisahkan fakta dan mitos dalam kehidupan Alexander.

 

Ia Diajarkan oleh Artistoteles dan Filsuf Lain

Alexander and Diogenes (Credit: Getty Images)
Ayah Alexander, Phillip II Macedonia, menyewa Aristoteles, salah satu filsuf terbaik masa itu untuk mengajari Alexander kecil.berumur 13 tahun. Sedikit yang diketahui mengenai tiga tahun pengajaran  Bertahun-tahun kemudian di India, Alexander menahan ekspansi demi belajar lebih banyak kepada gymnosophists, “filsuf telanjang” dari umat Hindu atau Jain yang menolak kenikmatan dunia, termasuk pakaian.

Alexander Tidak Pernah Kalah dalam 15 Tahun Penaklukannya


Strategi hebat Alexander masih dipelajari dalam materi ketentaraan hingga kini. Semenjak kemenangan pertamanya di umur 18, ia mendapatkan reputasi baik dalam memimpin pasukannya dengan lincah, membuat pasukan kecil menusuk garis pertahanan bahkan sebelum musuhnya siap. Setelah mengamankan kerajaannya di Yunani, tahun 334 M, Alexander menyebrang ke Asia tepatnya Turki dimana ia memenangi berbagai pertempuran dengan tentara Persia di bawah pimpinan Darius III. Inti kekuatan pasukan Alexander adalah 15.000 ahli pedang dengan tombak sepanjang 20 kaki yang disebut sarissa.

 

Ia Menamakan 70 Kota Berdasarkan Dirinya, Bahkan Kuda Miliknya


Alexander merayakan kemenangannya dengan membangun banyak kota (biasanya dibangun di sekitar benteng militer), salah satu yang terkenal adalah Alexandria. Kota yang paling dikenal ini berada di tepi sungai Nil ini dibangun tahun 331 M., dan sekarang merupakan kota terbesar kedua di Mesir. Kota-kota taklukannya berjajar rapih di sepanjang Turki, Iran, Afghanistan, Tajikistan dan Pakistan. Di dekat area pertempuran Hydaspes—pertempuran tersulit melawan bangsa India—Alexander membangun kota Bucephala, nama kuda favoritnya yang mati akibat pertarungan disana.
.Pandangan Pertama Membuatnya Menikahi Roxanne
Setelah penaklukan luar biasa tahun 327 M di kota Sogdia, Alexander yang saat itu berumur 28 tahun berkeliling disana saat Roxanne, puteri dari seorang Suci Bactrian, menatap matanya. Segera setelah prosesi pernikahan, ia memotong roti dengan pedangnya dan memberikannya kepada istrinya. Roxanne melahirkan keturunan Alexander, Alexander IV, tidak lama setelah kematian Alexander yang Agung.

 

Alexander Selalu Wangi

Plutarch yang menulis kisah Alexander 400 tahun setelah kematian pemimpin besar tersebut menulis bahwa aroma tubuh Alexander sangat wangi seperti parfum yang dipakainya.

 Alexander Mulai Berpakaian Seperti Orang Persia Setelah Menaklukannya
Enam tahun setelah penyerangan habis-habisan ke kekaisaran Persia, tahun 330 A.D. alexander menaklukan Persepolis, pusat kebudayaan Persia. Sadar bahwa cara terbaik mengelola kekuasaan Persia adalah menjadi seperti seorang Persia, Alexander mulai memakai baju ala bangsawan Persia. Tahun 324 ia mengadakan pernikahan massal di kota Susa dimana ia memaksa 92 pemimpin Macedonia menikahi wanita Persia (Alexander menikahi Stateria dan Parysatis)..

 

Kematian Alexander Menjadi Misteri Terbesar dalam Hidupnya

Tahun 323 SM, Alexander Agung sakit setelah meminum wine dalam sebuah pesta. Dua minggu kemudian, pria yang berumur 23 tahun tersebut meninggal. Mengetahui bahwa ayah Alexander meninggal karena dibunuh pengawalnya, kecurigaan mengalir di lingkungan dekat Alexander, terutama kepada Jenderal Antipater dan anaknya yakni Cassander (nantinya ia terlibat dalam pembunuhan janda Alexander dan ananya). Beberapa penulis biografi kuno bahkan berspekulasi bahwa Aristoteles yang memiliki hubungan dengan keluarga Antipater terlibat. Saat ini ahli medis berspekulasi bahwa malaria, infeksi paru-paru, gagal liver atau tifoid mungkin mengakibatkan dirinya meninggal.

Tubuh Alexander Diawetkan dengan Madu

Plutarch melaporkan bahwa jasad Alexander sebenarnya dibalsam di Babilonia oleh ahli pembalsaman Mesir, namun sejarawan Mesir A. Wallis Budge berasumsi bahwa jasad Alexander masih terolesi madu untuk menghindari pembusukan. Satu atau dua tahun setelah kematian dirinya, jasadnya dikirim kembali ke Macedonia hanya untuk upacara kerajaan dan kembali dikirim ke Mesir dibawah perintah Ptolermy I, salah satu mantan jenderalnya. Melihat bahwa yang mengawal jenasah Alexander adalah dirinya, dapat diketahui dirinyalah yang akan menjadi pewaris takhta kekaisaran berikutnya.

disadur dengan pengubahan dari laman



Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon