Minggu, 01 Mei 2016

Hari Buruh dan Fakta yang Anda Harus Ketahui

Loading...



penulis asli                          : Eric Chase – 1993
penerjemah dan editor        : Muhamad Ikhsan


Kebanyakan masyarakat Amerika mengetahui sedikit tentang Hari Buruh Internasional atau May Day. Beberapa orang beranggapan bahwa hari Buruh merupakan yang dirayakan dan berasal di negara-negara komunis seperti Kuba dan Uni Soviet dahulu. Kebanyakan orang Amerika tidak menyadari bahwa sebenarnya May Day berasal dari negeri mereka sendiri
Di akhir abad ke-19, kaum buruh memperjuangkan mendapatkan waktu bekerja selama delapan jam sehari. Kondisi pekerja juga memprihatinkan dan mereka masih dipaksa bekerja sepuluh hingga enam belas jam sehari. Kematian dan kecelakaan menghantui mereka setiap harinya dan menginspirasi beberapa karya seperti buku The Jungle milik Upton Sinclair dan The Iron Heel karya Jack London. Diawal 1860-an, kaum buruh memperjuangkan waktu kerja yang lebih singkat tanpa mengurangi upah mereka, akhirnya tahun 1880-an kaum buruh memiliki posisi yang kuat hingga dapat memutuskan bekerja selama delapan jam sehari. Meskipun kebijakan tersebut tidak disetujui para pemilik pabrik, namun hal tersebut nyatanya benar-benar diinginkan para buruh.

Saat sekarang dimana ideologi sosialisme adalah hal yang baru dan menguntungkan para buruh, banyak di antara mereka yang benar-benar menginginkan saat dimana kaum buruh memegang keseluruhan distribusi dan produksi barang dan jasa. Para buruh menganggap bahwa kapitalisme hanya menguntungkan para pemilik usaha serta menggadaikan nyawa buruh untuk kemakmuran mereka. Ribuan pria, anak-anak dan wanita menderita dan bernasib memprihatinkan dalam tempat kerja mereka, dengan tingkat harapan hidup rendah hanya sampai umur dua puluh tahunan bagi anak-anak, serta harapan mereka untuk bebas dari penderitaan ini. Sosialisme lalu muncul sebagai jalan mereka untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Berbagai organisasi sosialis berkembang hingga akhir abad ke-19, mulai dari partai poitik hingga grup vocal gereja. Dalam pertemuan nasional di Chicago tahun 1884, Federasi Buruh Amerika menyampaikan bahwa kebijakan delapan jam kerja harus segera disahkan sebelum ataupun setelah 1 Mei 1886. Tahun berikutnya, Serikat Buruh Amerika dengan dukungan buruh lainnya, mendengungkan kembali aspirasi mereka dan mengancam melakukan demonstrasi dengan kekerasan. Dalam surat kabar buruh, The Alarm, Samuel Fielden menulis “apakah seseorang yang bekerja delapan jam atau sepuluh jam sekalipun, mereka masih seorang budak.”
Setidaknya seperempat juta buruh menjadi terpengaruh untuk memperjuangkan kebijakan bekerja delapan jam sehari serta berbagai serikat buruh lainnya. Semakin hari para demonstran semakin beringas memperjuangkan kebijakan tersebut kepada para pemilik perusahaan, para pemilik perusaahn akhirnya menyadari bahwa aksi ini tidak sekadar memperjuangkan durasi jam kerja, namun berakar kepada revolusi social yang lebih hebat dan perubahan besar dalam struktur ekonomi kapitalisme.

Dalam proklamasi yang dibuat sehari sebelum 1 Mei 1886, dengan beberapa tuntutan dalam sebuah surat kabar, para buruh bersumpah menuntut hak mereka. Tidak mengherankan bahwa kota telah mempersiapkan diri kepada kerusuhan berdarah, mengingat sebelumnya terjadi serangan di jalur kereta satu decade sebelumnya ketika polisi dan tentara menahan laju ribuan buruh. Tanggal 1 Mei 1886, lebih dari 300.000 buruh dari 13.000 pabrik di seluruh Amerika meninggalkan tempat kerja mereka untuk merayakan setahun Hari Buruh dalam sejarah. Di Chicago terdapat demonstrasi besar-besaran menuntut durasi delapan jam kerja, setidaknya 40.000 orang dengan anarkis menuntut hal tersebut di alun-alun kota. Dengan nada berapi-api dan ide revolusi langsung, massa yang anarkis menjadi tenang oleh para buruh, meski hal ini dipandang rendah para kapitalis.
Nama tokoh perjuangan seperti - Albert Parsons, Johann Most, August Spies dan Louis Lingg – menjadi terkenal di Chicago dan di seluruh negeri. Parade demonstran yang damai mengukuhkan persatuan dan kekuatan buruh, membuktikan bahwa aksi tersebut tidak akan berjalan dengan kerusuhan seperti perkiraan media massa dan pemerintah setempat kira.
Lebih banyak pekerja melanjutkan aksi mogok kerja sampai jumlah pemogok kerja mencapai 100.000 orang. namun aksi damai tersebut pecah dua hari berikutnya yakni 3 Mei 1886, kerusuhan tersebut pecah di pabrik McCornick antara polisi dan para demonstran.

Selama setengah tahun, polisi memaksa dan mengunci pergerakan buruh pabrik besi ketika mereka berjaga. Kebanyakan buruh merupakan demonstran garis keras serikat pekerja besi. Selama demonstrasi di sekitar pabrik McCormick, sekitar dua ribu demonstran bergabung dengan serikat pekerja besi di garis penjagaan. Lemparan batu menjadi senjata mereka melawan polisi dan dibalas dengan hamburan peluru. Setidaknya dua pekerja tewas dalam kejadian berdarah ini dan banyak dari mereka terluka.
Tensi panas terasa dalam pertemuan antara para demonstran dengan walikota Chicago, walikota mengimbau para demonstran untuk menjauhi aksi kekerasan. Lalu juru bicara buruh, August Spies berkata “untuk teman-teman diharapkan menghindari aksi kekerasan kepada siapappun disini.”
Ketika unjuk rasa berlangsung, dua detekif melaporkan bahwa para pengunjuk rasa menggunakan bahasa yang kasar, hal ini memaksa polisi menertibkan kendaraan para pembicara pengunjuk rasa. Disaat aksi penertiban tersebut, sebuah bom dilemparkan dalam kerumunan tersebut. Berbagai spekulasi menyatakan beragam tentang siapa dalang dibalik ini, mulai dari pihak polisi atau buruh.
Kerusuhan kembali terjadi, meskipun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah korban, namun sekitar tujuh ataudelapan orang diperkirakan tewas dan sekitar empat puluh lainnya terluka. Satu polisi meninggal di tempat kejadian dan tujuh lainnya dalam beberapa hari kemudian. Kemudian bukti menunjukkan bahwa hanya satu korban dari polisi yang meninggal karena bom, selebihnya karena kesalahan mereka sendiri dalam menembakkan senjata mereka.

Delapan tersangka - Albert Parsons, August Spies, Samuel Fielden, Oscar Neebe, Michael Schwab, George Engel, Adolph Fischer dan Louis Lingg – ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Meski hanya tiga dari mereka yang ikut dalam demo tersebut, mereka tetap ditahan. Tanggal  11 November 1887, setelah gagal membela dalam pengadilan, Parsons, Spies, Engel and Fisher dieksekusi mati dengan digantung. Louis Lingg yang merupakan tersangka terakhir yang belum dieksekusi menuntut keadilan atas kejadian yang menimpa mereka, karena kekecewaannya ia mengakhiri hidupnya dengan peledak yang diletakkan di mulutnya.
Setelah kejadian pembunuhan Haymarket, kabar ini menyebar ke seluruh dunia dan menjadi inspirasi aksi berikutnya dan Sosialisme menjadi asing di Amerika. Gambaran umum dari aksi anarksi meluas, mereka menggambarkan para imigran eropa timur dengan bom dan pisau di masing-masing genggaman.
Hari ini kita melihat puluhan ribu aktivis memperjuangkan hak mereka seperti yang dilakukan para pejuang Haymarket dan mereka yang mendirikan hari buruh. Namun ironis bahwa hari buruh hanya menjadi hari libur nasional di 66 negara, dan sedikit pengetahuan warga di negeri paman Sam dimana peristiwa tersebut dimulai.

Sejujurnya sejarah memiliki banyak hal untuk diajarkan kepada kita. Ketika kita mengingat korban akibat perjuangan hari buruh, jika kita mengetahui penderitaan mereka yang rumahnya dibakar sehingga kita menikmati hari sabtu sebagai hari libur, ketika kita mengetahui banyak korban anak-anak di pabrik serta perjuangan menolak eksploitasi anak sebagai buruh yang dihentikan polisi dan para preman, kita mengerti bahwa kondisi kita sekarang tidak akan terwujud akibat perjuangan mereka, dan masih banyak hal lain untuk diperjuangkan. Inilah mengapa kita perlu mengetahui muasal hari buruh/ May Day.

Disadur dengan pengubahan dari laman

Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon