Minggu, 15 Mei 2016

5 Peristiwa yang Hampir Menyebabkan Perang Nuklir



Lebih dari setengah abad lalu, hubungan antara A.S dan Uni Soviet mulai merenggang dan berujung kepada perang nuklir pada masa yang akan dikenal sebagai Krisis Misil Kuba. Hal itu juga mungkin menjadi peristiwa yang paling dikenal, namun krisis tersebut bukanlah satu-satunya bagian Perang Dingin antara A.S dan Soviet yang panas. Kedua negara tersebut berseteru selama 30 tahun kemudian dan ketegangan terkadang memnuncah ketika terjadi perkembangan teknologi persenjataan, misi intelijen, perang dingin dan kesalahpahaman yang hampir berujung perang nuklir. Berikut ini kami telah menghimpun lima peristiwa menarik selama Perang Dingin antara A.S dan Uni Soviet.

Insiden Spionase Pesawat U-2

27 Oktober 1962, tepat setelah Krisis Misil Kuba mencapai puncaknya, sebuah pesawat pengintai Amerika yakni U-2 terlihat terbang di langit Alaska dalam rangka misi rutin reconnaissance dekat Kutub Utara. Pilot Charles Maultsby terekam menggunakan rute navigasi dari satelit di daerah tersebut, namun pengamatan tersebut sayangnya terlihat akibat pantulan aurora borealis. Tanpa tanda visual yang membimbingnya, Maultsby pasti akan tersasar dari tujuan awalnya dan melewati batas negara Uni Soviet.

Kita pasti mengetahui bahwa saat itu situasi Kuba mencapai puncaknya, tentu saja insiden Maultsby tersebut menambah tegang tensi kedua negara tersebut. Khawatir juka pesawat U-2 merupakan pesawat pengebom nuklir, Soviet mengerahkan beberapa pesawat jet MiG menghancurkan pesawat tersebut sebelum hal buruk menimpa. Militer A.S kontan merespon kedatangan pesawat MiG dengan menerbangkan dua pesawat F-102 bersenjatakan nuklir untuk mengamankan langkah Maultsby kembali ke Alaska. Ketegangan tersebut bisa saja berujung perang sungguhan, namun Maultsby berhasil menerbangkan pesawatnya yang hampir kehabisan bahan bakar bebas dari kepungan Soviet. Setelab kejadian tersebut, Presiden Kennedy dan Nikita Khrushchev akan menemukan solusi perdamaian dalam kemelut Krisis Misil Kuba nantinya.

Insiden Kapal Selam B-59 

Pada hari yang sama, sebuah insiden kecil antara kapal selam Soviet yang mungkin hampir berakhir menjadi perang nuklir. Hari itu, disaat puncak ketegangan Krisis Misil Kuba, kapal USS Beale mendeteksi adanya kehadiran kapal selam B-59 bersenjatakan nuklir Soviet di dekat garis blockade Kuba. Ancaman tersebut berupa kapal B-59 yang harus naik ke permukaan, namun kapten kapal selam malah mengira kapal Beale akan menembakaan senjata. Melihat adanya percikkan menuju Perang Dunia III, kapten dengan marah memerintahkan mengarahkan senjata nuklir menyerang.
Kesalahpahaman tersebut akan menimbulkan bencana jika pihak Soviet menembakkan senjata nuklirnya. Kapten kapal selam mungkin saja berapi-api memerintahkan peluncuran senjata nuklir, namun wakil kapten Vassili Arkhipov, menolak perintah tersebut. Setelah kapten kapal mulai reda kemarahannya, Arkhipov berhasil membujuk seluruh awak untuk menaikkan kapal selam ke permukaan dan meminta perintah baru dari Moskow. Kapal selam akhirnya bisa selamat tanpa cacat, namun kebijaksanaan Arkhipov baru diketahui 40 tahun kemudian.

Kesalahan Komputer NORAD Tahun 1979 
Akhir 1970-an, baik A.S dan Soviet bergantung kepada kecanggihan computer untuk mendeteksi kemungkinan serangan nuklir. Namun beberapa teknologi baru hadir dengan bayaran mahal dan berisiko melakukan kesalahan pendeteksian. Mungkin kesalahan yang paling dikenal berasal dari kantor North American Aerospace Defense Command ( NORAD). Pagi hari tanggal 9 November 1979, teknisi di pusat penelitian tersebut menerima alarm bahaya serangan nuklir, sampai-sampai mereka menerbangkan 10 pesawat pencegat dan melaksanakan peluncuran “pesawat pemunah”, dan memberi ancang-ancang peluncuran nuklir sebagai aksi pembalasan.

Kepanikan tersebut hilang setelah NORAD mengecek kembali data satelit dan menyadari bahwa alarm nuklir tersebut tidak lebih dari kesalaham. Setelah pengecekan lebih lanjut, mereka menemukan bahwa teknisi baru saja menjalankan simulasi penyerangan nuklir Soviet. Insiden terus kontan saja memberi ketegangan baru di kalangan internasional, hingga pemimpin Soviet, Bhreznev, menulis surat kepada presiden Carter yang menekankan “bahaya luar biasa” karena kesalahan system. Bukan kali itu saja terjadi kesalahan komputer berujung serangan nuklir yang sesungguhnya. Kesalahan Chip Komputer nantinya akan menggiring kepada tiga masalah lagi di pusat NORAD.

Alarm Nuklir Palsu 1983


Tanggal 26 September 1983, Letnan Kolonel Stanislav Petrov memerintahkan  Serpukhov-15, sebuah bunker monitor satelit Soviet. Tak lama setelah tengah malam, kepanikan pecah disaat alarm menyalakan sinyal bahwa Amerika telah meluncurkan lima misil nuklir antarbenua (Intercontinental Ballistic Missiles atau ICBMs) menuju Rusia. Peringatan tersebut rupanya sebuah kesalahan karena salah satu satelit salah mengartikan pancaran sinar matahari dari awan dekat Montana sebagai misil nuklir, namun pihak Soviet tetap bersikeras A.S telah memulai perang nuklir.

Pusat monitor meminta Serpukhov-15 melaporkan semua tanda peluncuran misil A.S kepada pusat, namun Petrov beralasan hal tersebut hanya kesalahan system. Ia tahu bahwa satelit baru tersebut memang punya banyak kekurangan dan dia juga berasumsi semua serangan nuklir A.S akan tiba dalam bentuk ribuan misil nuklir, bukan ghanya lima. Hanya beberapa menit, Petrov telah mencegah adanya perang nuklir. Insiden tersebut baru dibuka setelah Perang Dingin usai, namun nanti Petrov akan dianugerahi gelar dari pemerintah A.S. atas keputusannya yang menentukan sejarah dunia.

Latihan Penyerangan Able Archer 83


Meskipun tidak diketahui umum, dokumen intelijen lama telah menguak bahwa pada November 1983 latihan militer NATO hampir berujung perang antara Amerika dan Soviet. Sumber kesalahpahaman berpangkal kepada latihan militer bertajuk Able Archer 83 yang menunjukkan bagaimana seharusnya sebuah serangan konvensional Soviet dibalas A.S. dengan hunjaman nuklir. Simulasi tersebut tidak lazim saat itu, namun latihan militer Able sangat jauh dari kenyataan. Saat mempersiapkan latihan militer, Amerika menurunkan 19,000 tentara di ajang tersebut, menjadikannya sebagai pertanda perang sungguhan.

Bagi Soviet, pergerakan tersebut tepat seperti dugaan mereka tentang bagaimana Amerika akan melakukan serangan nuklir. Sementara mereka tahu dimana latihan tersebut digelar dan mengantisipasi hal tersebut sebagai strategi menutupi perang yang sebenarnya bisa saja terjadi. Karena hal tersebut, Soviet segera membunyikan bahaya sebenarnya dan menyiagakan senjata nuklir mereka, dengan beberapa tentara berjaga di Jerman Timur dan Polandia untuk kemungkinan perang. Ketegangan baru usai hinggal 11 November, ketika latihan Able Archer seleai tanpa masalah. Nanti setelah NATO dan Amerika menyadari latihan yang mereka lakukan hampir saja menyulut api Perang Dunia III.

disadur dengan pengubahan dari laman




Artikel Terkait

Show comments
Hide comments


EmoticonEmoticon